Minggu, 14 Agustus 2016

Data Market Size dan Tren Pertumbuhan Deterjen di Indonesia


Nilai pasar (market size) industri deterjen di Indonesia diestimasi tumbuh 3,5% menjadi Rp 10,11 triliun pada 2016 dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 9,77 triliun, menurut riset duniaindustri.com. Momentum perbaikan perekonomian Indonesia dan daya beli konsumen akan menopang pertumbuhan market size industri deterjen tahun ini.

Dalam empat tahun terakhir, pertumbuhan market size industri deterjen cukup fluktuatif. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada 2014 sebesar 6% menjadi Rp 9,54 triliun.

Namun, perlambatan perekonomian nasional, depresiasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, serta kejatuhan harga komoditas dunia ikut berpengaruh terhadap pertumbuhan industri deterjen pada 2015. Tahun lalu, market size industri deterjen diperkirakan tumbuh melambat menjadi 2,5%.

Tiga raksasa consumer goods di Indonesia, yakni Wings Group, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), dan PT Kao Indonesia, makin ketat bersaing di pasar deterjen di indonesia.

Berdasarkan penelusuran Duniaindustri.com, Wings Group masih menguasai pasar deterjen nasional (mencakup deterjen bubuk dan krim) dengan pangsa 52,6%. Wings Group mengandalkan produk utama seperti Wings, Ekonomi, Daia, dan So Klin untuk bersaing dengan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang menguasai 33% pasar deterjen nasional. Unilever mengandalkan produk deterjen seperti Rinso, Surf, dan Omo.

Sedangkan produsen lainnya, seperti PT Kao Indonesia dengan merek Attack dan Dino, menguasai 10%-11% pasar deterjen nasional. Sisanya dikuasai sejumlah produsen seperti PT Sinar Antjol dengan merek B-29, dan PT Jayabaya Raya dengan merek Suroboyo, yang menguasai 4,4% pasar deterjen di Indonesia.

Persaingan di industri deterjen sangat tinggi. Penguasaan pasar suatu produk dapat berubah dengan cepat. Perpaduan pemasaran, mulai dari produk, promosi, harga, hingga akses jangkauan oleh konsumen menjadi strategi penting bagi perusahaan-perusahaan produsen deterjen untuk mempertahankan volume penjualan serta posisi pangsa pasar.

Salah satu faktor yang akan dihadapi oleh industri deterjen saat ini adalah kenaikan bahan baku dan kemasan. Perusahaan harus mampu menyeimbangkan kenaikan harga dengan daya beli konsumen serta strategi pesaing. Industri deterjen juga menghadapi peralihan pilihan merek oleh konsumen yang cepat.

Unilever dan Wings Group memiliki strategi yang berbeda untuk mempertahankan dominasi di pasar deterjen nasional. Jika Unilever menggandeng produsen elektronik terutama mesin cuci untuk memasarkan produk barunya, Wings Group justru memperkuat ekspansi ke sektor hulu, yakni bahan baku deterjen.

Lewat anak usahanya yakni PT Unggul Indah Cahaya, Wings Group memiliki pabrik bahan baku deterjen berupa alkylbenzene terbesar di Asia Pasifik, dengan kapasitas terpasang lebih dari 200 ribu metrik ton per tahun. Selain itu, Wings Group menjalin kerja sama dengan Djarum Group dan Lautan Luas Group untuk membeli Ecogreen Oleochemicals dari Salim Group, yang merupakan produsen bahan baku deterjen, sabun, dan body care dengan kapasitas 100 ribu ton per tahun.(*/)

Sumber: di sini
* Cari data industri dan riset persaingan pasar, klik di sini
** Butuh copywriter andal, klik di sini
*** Butuh content provider profesional, klik di sini

Kamis, 04 Agustus 2016

Menghitung Tren Oversupply Industri Semen

Riset Pasar dan Analisis Oversupply Semen (2016-2019) ini dirilis per Agustus 2016 menampilkan seluruh informasi mengenai kondisi kelebihan pasokan (oversupply) industri semen di Indonesia. Fokus utama pembahasan dalam riset independen, data, analisis, kajian, dan outlook komprehensif ini terkait kondisi oversupply semen dan strategi para pemain.

Riset Pasar dan Analisis Oversupply Semen (2016-2019) ini dimulai dengan tren permintaan (demand) semen 2003-2016, dikaitkan dengan kapasitas terpasang (instaled capacity), serta pertumbuhan konsumsi. (halaman 2) Dengan melihat tren jangka panjang sejak 2003, terlihat kapasitas semen domestik terus di atas tingkat konsumsi lokal, sehingga Indonesia tidak defisit pasokan semen. Oversupply terjadi saat pertumbuhan permintaan di bawah ekspektasi.

Pada halaman 3 ditampilkan grafis terkait proyeksi kondisi oversupply semen 2016-2020. Pertumbuhan kapasitas terpasang semen akan terjadi paling tinggi pada 2017, sementara estimasi produksi riil akan menyesuaikan. Tingkat permintaan semen diproyeksi tumbuh berkisar 4% (estimasi terendah), 6% (estimasi moderat), dan 8% (estimasi tertinggi) periode 2016-2020.

Kondisi oversupply semen juga dijabarkan lebih lanjut pada halaman 4 dengan komparasi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 1993-2015. Duniaindustri.com membuat analisis eksklusif terkait kondisi oversupply semen untuk proyeksi 2016-2017. (halaman 5-6)

Pada halaman 7, dipaparkan faktor kunci pendorong tingkat permintaan (demand) semen di Indonesia, antara lain anggaran infrastruktur, perumahan, potensi pasar, serta bonus demografi penduduk kelas menengah. Pengembangan proyek-proyek infrastruktur dijabarkan lebih detail pada halaman 8-9 dan dilengkapi dengan korelasinya terhadap tingkat konsumsi semen per kapita di Indonesia.

Pengaruh proyek infrastruktur terhadap konsumsi semen juga terlihat dari perubahan porsi penjualan semen dari kemasan zak (bag) kepada partai besar (bulk) periode 1997-2016. (halaman 11-12)

Riset Pasar dan Analisis Oversupply Semen (2016-2019) ini juga dilengkapi dengan data peta persaingan merek semen per daerah, market leader per daerah, serta perubahan dan pertumbuhannya hingga 2016. (halaman 13)

Pada halaman 14-20, dijelaskan strategi market leader semen untuk mengatasi kondisi oversupply dan persaingan yang makin ketat. Pada halaman 21 ditampilkan tingkat konsumsi semen di negara-negara ASEAN. Riset ini juga dilengkapi dengan strategi pemain dengan pangsa pasar kedua dan ketiga dalam menghadapi kondisi oversupply semen di pasar lokal.

Riset Pasar dan Analisis Oversupply Semen (2016-2019) sebanyak 32 halaman ini berasal dari riset duniaindustri.com dengan dukungan data yang berasal dari Kementerian Perindustrian, Asosiasi Semen Indonesia (ASI), BPS, WHO dan Bank Dunia, dan sejumlah perusahaan semen di Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih.(*)

Sumber: di sini
* Cari data industri atau riset pasar, klik di sini
** Butuh copywriter andal, klik di sini
*** Jasa content provider profesional, klik di sini

Rabu, 03 Agustus 2016

Indonesia Consumer Behavior Market Research

Consumer Goods Market Research and Online Shoping Trends (2009-2017) was released in August 2016 featuring independent research, data, analysis, review, and a comprehensive outlook regarding all information on the consumer goods market and the rapid trend of online shopping (online shopping) in Indonesia. Market research study two subjects have been given the relative stability of the two sectors in Indonesia amid the economic slowdown in 2015 until the first half of 2016.

Consumer Goods Market Research and Online Shoping Trends (2009-2017) begins by showing highlights macroeconomic Indonesia, covering 2014-2019 GDP growth, inflation trends, population, middle-class consumer trends, the potential of the local market, as well as trends in GDP per capita. (Page 2-4)

Furthermore, Consumer Goods Market Research It outlines the actual growth of the consumer goods industry (consumer goods) in Indonesia until the first half of 2016. The market trends as well as indicators of the growth seen in the value and volume, gives an overview of its own related to the purchasing power of consumers in Indonesia. (Page 5) In the long term, the consumer goods industry still prospective with potential US $ 810 billion by 2030 (page 6)

On page 7-8, duniaindustri.com make exclusive research related to the market value (market size) the consumer goods industry in the category of food and beverages (food and beverages). The results of the research supported by external research that measures the growth of consumer goods in the five categories of food, dairy, beverages, personal care, and home care until the first half of 2016 (page 9)

In addition, the display also purchase frequency trend of consumer goods, changes in product prices, and the average growth of consumer spending. (Page 10) On page 11, described the trend of consumer goods sales 7 categories namely food, dairy, beverages, personal care, home care, packaged foods, and chilled foods in the modern market (minimarket, supermarket, hypermarket, and other types).

The market research also outlines the growth and market size food and drink industry in detail on pages 12-14. Overall, packaged food over the period 2013-2017 is expected to grow an average 12.6% per year. Some foods are synonymous with the lifestyle of the community middle class income is expected to grow higher, including canned / preserved food (16.7%), frozen processed food (16.6%), ice cream (18%), and noodles (13 , 5%).

Meanwhile, soft drinks is expected to grow an average of 12% per year. Strong growth is expected to occur on the product ready to drink (RTD) coffee (18.8%), fruit / vegetable juice (15.6%), sports and energy drinks (14.8%), and RTD tea (13.7 %).

Consumer Goods Market Research and Online Shoping Trends (2009-2017) continued the discussion of the trend of online shopping (online shopping) that starts from the number of Internet users in Indonesia, the Internet penetration since 2005, and consumers' online activities. (Pages 15-17)

In addition, research is fitted with a trend of e-commerce based on gender, products are often purchased online, the products are sold online, internet access per regions in Indonesia, as well as the resistance factor consumers to shop online, and trends online payment system.

Consumer Goods Market Research and Online Shoping Trends (2009-2017) as many as 34 pages of this pdf come from various sources such as industry associations, BPS, external research, and processed duniaindustri.com. Index of industry data is a new feature in duniaindustri.com featuring dozens of selected data according to the needs of users. All data is presented in pdf form so easily downloaded after users perform processes according to the procedure, ie click buy (purchase), click checkout, and fill out the form. Duniaindustri.com priority to the legitimacy and validity of the source of the data presented. thanks.(*)

Sources: click here

Selasa, 02 Agustus 2016

Tren Perilaku Konsumen 2016

Volume penjualan consumer goods (produk barang konsumsi) di Indonesia pada semester I 2016 masih melemah secara tahunan, ditandai pelemahan volume penjualan makanan (food) -7% dan minuman -1%. Menurut analisis lembaga riset Kantar Wordpanel Indonesia, permintaan (demand) konsumen masih cenderung rendah seiring pelemahan konsumsi, frekuensi pembelian, anggaran belanja, dan pembelian per unit.

Pasar consumer goods di Indonesia pada paruh pertama 2016 lebih banyak ditopang kenaikan harga yang mendorong nilai pasar secara keseluruhan. Secara nilai, pasar consumer goods di Indonesia tumbuh 5,1% ditopang peningkatan harga per unit sebesar 3,6%, sementara tingkat frekuensi pembelian turun -0,9%.

Pasar produk consumer goods pada 12 minggu hingga akhir Juni 2016 belum mampu bangkit, seiring perlambatan ekonomi nasional yang memukul daya beli konsumen. Pelemahan demand produk consumer goods secara volume menjadi yang terburuk dalam tujuh kuartal terakhir, menandakan tekanan berat bagi produsen.

"Penjualan produk makanan anjlok -7% secara volume, namun naik 2% secara nilai. Sedangkan produk dairy tumbuh 2% secara volume dan meningkat 6% secara nilai. Penjualan produk minuman juga turun -1% secara volume, tapi tumbuh 7% secara nilai. Penjualan produk home care tumbuh 1% secara volume dan naik 9% secara nilai. Penjualan produk personal care tumbuh paling tinggi di antara kategori consumer goods, yakni tumbuh 7% secara volume dan naik 11% secara nilai," tulis riset Kantar Worldpanel yang diterima duniaindustri.com.

Meski penjualan produk makanan dan minuman masih dalam teritori negatif secara volume, terjadi perbaikan di kategori-kategori lain terutama produk personal care. Kondisi di akhir Juni 2016 juga lebih baik dibanding Februari 2016 saat seluruh kategori produk consumer goods menderita pertumbuhan negatif per Februari 2016 mengindikasikan tekanan berat dialami daya beli konsumen.

Dilihat dari tren makro ekonomi, inflasi pada Juni 2016 naik menjadi 3,45% dari inflasi Mei 2016 sebesar 3,33%. Perekonomian Indonesia tumbuh 4,92% pada kuartal I 2016, sedikit di atas ekspektasi 4,91%. Sementara nilai mata uang rupiah menguat sekitar 0,5% pada Juni 2016 di level Rp 13.422/US$ dibanding bulan sebelumnya.

Fast moving consumer goods mencakup barang-barang konsumsi yang dibutuhkan sehari-hari atau dibutuhkan secara berkala dalam periode waktu tertentu yang singkat. Barang konsumsi jenis itu mencakup produk-produk makanan (food), peralatan rumah tangga (household), dan perawatan tubuh (personal care). Berbeda dengan barang tahan lama (durable goods), barang-barang fast moving consumer goods memiliki umur simpan yang singkat, baik sebagai akibat dari permintaan konsumen tinggi maupun karena produk yang cepat rusak.

Pasar FMCG di Indonesia tumbuh rata-rata per tahun (compounded annual growth rate/CAGR) sebesar 16,6% periode 2004-2010, di tengah fluktuasi inflasi yang dapat menahan maupun menggerus daya beli masyarakat. Sementara periode 2011 hingga saat ini, pertumbuhan pasar diperkirakan sekitar 13%. Namun, tekanan berat yang dihadapi konsumen mengubah tren pasar pada 2015-2016.(*)

Sumber: di sini
* Cari data industri atau riset persaingan pasar, klik di sini

Minggu, 31 Juli 2016

Tren Pasar Semen di Indonesia


Penjualan semen di Sulawesi di semester I 2016 tumbuh tertinggi dibanding daerah lain di Indonesia. Penjualan semen di Sulawesi naik 24,8% menjadi 2,54 juta ton pada semester I 2016 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 2,03 juta ton, berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI).

Kontribusi penjualan semen di Sulawesi terhadap total pasar semen secara nasional juga tumbuh menjadi 8,6% di semester I 2016 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 7,1%.

Penjualan semen di Sulawesi memimpin pertumbuhan pasar, disusul Maluku dan Papua (+16,9%), Sumatera (+6,9%), Nusa Tenggara (+2,1%), Pulau Jawa (+1,3%). Sementara penjualan semen di Kalimantan anjlok -16% di semester I 2016 menjadi 2 juta ton dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 2,38 juta ton.

Penjualan semen di Pulau Jawa tercatat tumbuh tipis 1,3% menjadi 16,24 juta ton di semester I 2016 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 16,02 juta ton. Secara nasional, penjualan semen di semester I 2016 tumbuh 3,1% menjadi 29,48 juta ton dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 28,59 juta ton.

Khusus di Pulau Jawa, menurut data ASI, beberapa daerah mencatatkan pertumbuhan penjualan dipimpin Jawa Tengah (+10,7%), Jawa Timur (+8%), dan Jawa Barat (+0,5%). Sedangkan penjualan semen di DKI Jakarta turun -11%, demikian juga Yogyakarta -1%.

Duniaindustri.com menilai kenaikan penjualan semen domestik pada semester I 2016 mengisyaratkan sentimen positif terhadap industri ini, meski masih dibayangi persaingan ketat dengan pemain baru dan kondisi kelebihan pasokan. Para pemain semen existing berupaya mempercepat ekspansi domestik serta merambah pasar baru di Asia Selatan guna mengimbangi persaingan dan fluktuasi penjualan semen domestik.

Penjualan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) sebagai produsen pemegang pangsa pasar terbesar di Indonesia ikut meningkat positif sebesar 1,7% di semester I 2016 menjadi 12,18 juta ton, dibanding periode yang sama tahun lalu 11,98 juta ton. “Sementara untuk penjualan produk ke luar negeri sepanjang semester I 2016, perseroan setidaknya telah mengekspor sebanyak 189 ribu ton,” kata Direktur Utama Semen Indonesia Rizkan Chandra.

Munculnya pemain-pemain baru membuat jumlah pemain industri semen di Indonesia bertambang signifikan dalam periode empat tahun terakhir, naik 111% sejak 2012 hingga 2016. Pada 2012, pemain industri semen baru berjumlah 9, namun pada 2016 jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 19 pemain. Hal ini menyebabkan peta persaingan dalam penjualan semen domestik menjadi lebih ketat.

Persaingan industri semen terutama untuk sejumlah merek di Pulau Jawa dan Kalimantan diperkirakan makin memanas seiring kehadiran pemain-pemain baru, menurut riset duniaindustri.com. Munculnya pemain-pemain baru berpotensi menggerus pangsa pasar pemain existing jika tidak diantisipasi dengan strategi yang tepat.

Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), pasar semen di Pulau Jawa pada 2015 mencapai 33,69 juta ton, turun 0,1% dibanding 2014 sebesar 33,73 juta ton. Pasar semen di Pulau Jawa berkontribusi 55,74% dari total pasar semen di Indonesia. Dari jumlah itu, pasar semen terbesar di Pulau Jawa terletak di Jawa Barat sebesar 8,93 juta ton atau setara 26,5% dari total pasar semen di Pulau Jawa. Setelah Jawa Barat, pasar semen terbesar kedua yakni Jawa Timur sebesar 8,1 juta ton, Jawa Tengah 7,12 juta ton, Jakarta 5,3 juta ton, Banten 3,28 juta ton, dan Yogyakarta 940 ribu ton.

Sementara pasar semen di Kalimantan pada 2015 mencapai 4,06 juta ton, atau setara 6,7% dari total pasar semen di Indonesia. Tahun ini sejumlah pemain baru akan merealisasikan pabrik baru dan mulai merambah pasar terutama di Pulau Jawa dan Kalimantan. Sebut saja, Semen Garuda, Semen Merah Putih, Semen Puger, Semen Bima, Semen Jawa akan meramaikan pasar semen di Pulau Jawa. Sementara Semen Conch akan memperketat persaingan semen di Pulau Kalimantan.

Berdasarkan kompilasi data duniaindustri.com, Pulau Jawa saat ini dikuasai dua produsen semen besar, yakni PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dengan pangsa pasar masing-masing sekitar 38,8% dan 37%. Begitu juga di Pulau Kalimantan, Semen Indonesia dan Indocement menguasai pangsa pasar masing-masing sekitar 51,6% dan 27,9%.

Kehadiran pemain-pemain baru dengan merek semen yang baru akan terus memanaskan kompetisi pasar dengan pemain existing, mengingat skala ekonomi dan perang harga dimungkinkan terjadi. Pemain baru diperkirakan menggencarkan promosi dan diskon harga terutama di daerah dekat pabrik untuk menopang pertumbuhan merek semen mereka. Hal itu tentu harus diantisipasi pemain-pemain existing.(*)

Sumber: di sini
* Cari data industri atau riset pasar, klik di sini

Rabu, 27 Juli 2016

Reshuffle Kabinet Lambungkan IHSG hingga Sentuh 5.300 Poin

Pengumuman perombakan atau reshuffle kabinet jilid II dinilai sebagai sentimen positif sehingga melambungkan bursa saham Indonesia (indeks harga saham gabungan/IHSG) hingga menyentuh 5.300 poin. Sentimen positif itu terutama penunjukkan Sri Mulyani sebagai menteri keuangan yang baru.

Presiden Joko Widodo mengumumkan reshuffle kabinet jilid II di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta (27/7/2016). Presiden menyadari tantangan selalu berubah dan diperlukan kecepatan dalam bertindak. Jokowi berusaha semaksimal mungkin agar kabinet bekerja lebih cepat, efektif, dan solid.

Berikut daftar menteri baru yang masuk reshuffle kabinet jilid II: 1. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, 2. Menteri Keuangan Sri Mulyani, 3. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sanjoyo, 4. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, 5. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, 6. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, 7. Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto, 8. Menteri ESDM Archandra Tahar, 9. Menteri PAN dan RB Asman Abnur, 10. Menteri Kemaritiman dan Sumber Daya Luhut Binsar Pandjaitan, 11. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil, 12. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong, 13. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung menjelaskan Airlangga Hartarto ditunjuk sebagai menteri perindustrian karena memiliki pengalaman panjang di bidang perindustrian. Airlangga juga terlibat dalam perumusan Undang-undang (UU) Industri.

"Anggota DPR lama, dan berada pada komisi yang sama yaitu Komisi industri. Sehingga presiden meyakini penugasan kepada Airlangga bisa dilakukan dengan baik dan ditugaskan untuk membuat roadmap industri ke depan yang harus diselesaikan dan juga bagaimana bidang industri bisa meningkat daya saingnya," terang Pramono.

Perombakan kabinet menambah panjang daftar sentimen positif bagi IHSG setelah sebelumnya terdorong sentimen tax amnesty. Direktur Utama BEI Tito Sulistio menilai seluruh pelaku usaha di pasar modal, di antaranya perwakilan bursa di seluruh Indonesia, broker, dan emiten optimistis program pengampunan pajak (tax amnesty) akan mampu menarik uang secara besar-besaran ke Indonesia. “Dampak positif tax amnesty sudah terasa di bursa efek. Market kencang sekali,” ujar Tito.

Kinerja pasar modal Indonesia mencatatkan frekuensi perdagangan saham tertinggi sebanyak 377.000 kali transaksi per hari. Realisasi ini mengalahkan Singapura dan Malaysia yang hanya membukukan frekuensi perdagangan masing-masing 74.000 dan 153 kali transaksi per hari.

“Untuk kapitalisasi pasar mencapai Rp 5.670 triliun, mengalahkan Thailand, Malaysia, dan Filipina. Kalau Rp 5.900 triliun, kita sama dengan perbankan, mudah-mudahan bisa cepat,” kata Tito.

Menurut dia, kenaikan kinerja pasar modal Indonesia di bulan-bulan ini karena ada optimisme dari para pelaku pasar maupun stakeholder akan ada dana masuk besar-besaran dari program pengampunan pajak. Kinerja ini berkat sosialisasi agresif dari BEI.

“Potensi di secondary market Rp 6 triliun-Rp 7 triliun per hari, transaksi velositas 21 persen. Jika sampai 60 persen dengan barang yang sama, maka bursa bisa mencapai transaksi sampai Rp 15 triliun per hari, dikalikan sebulan 24 hari, sekitar Rp 150 triliun-Rp 200 triliun tambahan potensi ada,” ucap Tito.(*)

Sumber: di sini
* Cari data industri atau riset persaingan pasar, klik di sini

Rabu, 20 Juli 2016

Peta Persaingan Top 15 Merek Mobil Terlaris

Lima merek mobil yang diusung Toyota mampu menguasai deretan teratas top 15 mobil terlaris di Indonesia pada semester I 2016. Dipimpin Toyota Avanza, merek mobil Toyota seperti Kijang Innova, Agya, Fortuner, dan Rush mendominasi deretan teratas top 15 mobil terlaris.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan merek mobil terlaris top 15 dilihat dari penjualan wholesales adalah Toyota Avanza (67.224 unit), Toyota Kijang Innova (30.880 unit), Honda BR-V (29.347 unit), Toyota Agya (28.162 unit), Daihatsu Ayla (26.228 unit), Daihatsu Xenia (23.963 unit), Honda Mobilio (23.705 unit), Daihatsu Gran Max Pick-Up (20.389 unit), Honda HR-V 1.5 (20.027 unit), Datsun GO & GO+ (18.766 unit), Suzuki Ertiga (17.890 unit), Toyota Fortuner (13.841 unit), Toyota Rush (12.007 unit), Honda Brio Satya (11.385 unit), dan Mitsubishi Pajero Sport (10.308 unit)

Menurut data Gaikindo, penjualan wholesales mobil di Indonesia pada semester I 2016 mencapai 531.929 unit, naik 1,22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu 525.479 unit.

Dari penjualan pada periode tersebut, merek mobil Toyota tetap menjadi yang teratas dengan total penjualan 174.550 unit. Posisi kedua direbut merek mobil Honda melalui penjualan 109.662 unit, disusul kemudian oleh merek mobil Daihatsu sebanyak 89.510 unit, Mitsubishi 50.996 unit, dan Suzuki 49.683 unit.

Urutan keenam hingga limabelas berturut-turut adalah Datsun sebanyak 18.766 unit, Hino 10.122 unit, Nissan 8.148 unit, Isuzu 8.064 unit, Mazda 3.184 unit, Mercedes-Benz 1.935 unit, Chevrolet 1.220 unit, BMW 1.129 unit, KIA 711 unit, dan Hyundai 635 unit.

Dari total penjualan wholesales sebanyak 531.929 unit, segmen sedan hanya memberi kontribusi 7.333 unit, turun dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai 10.537 unit.

Hingga pertengahan 2016 ini, sedan bermerek Toyota masih menjadi yang paling laku, di mana penjualannya mencapai 2.042 unit. Penjualan Honda ada di posisi kedua sebanyak 1.112 unit, disusul oleh Mercedes-Benz 1.044 unit.

Untuk sedan BMW terjual 572 unit, Proton 417 unit, Nissan 79 unit, Mazda 75 unit, Lexus 34 unit, Suzuki 26 unit, VW Passenger 19 unit, Audi 18 unit, Peugeut 13 unit, dan merek lainnya masing-masing di bawah 10 unit.

Dari semua model sedan yang dibeli konsumen di Indonesia, Toyota Camry jadi yang paling laku dengan penjualan 795 unit, disusul Toyota Vios 684 unit, Mercedes-Benz C-Class 555 unit, Honda City 551 unit, Toyota Altis 516 unit, Mercedes-Benz E/S Class 498 unit, Honda Civic 357 unit, dan BMW 3-Series 270 unit.

Untuk menggairahkan kembali pasar sedan di Indonesia, Gaikindo telah meminta pemerintah agar segera menurunkan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sedan.

Seperti diketahui, PPnBM untuk sedan mencapai 30%, sementara mobil penumpang 4X2 seperti Multi-Purpose Vehicle (MPV) hanya terkena PPnBM sebesar 10%. Pajak yang tinggi ini membuat sedan menjadi mahal dan sulit dijual.(*)

Sumber: di sini
* Cari data industri atau riset pasar, klik di sini