Senin, 18 Januari 2016

Teror Bom, Terorisme, dan Pengaruh Investasi

Awal 2016, tepatnya Kamis (14/1), Indonesia khususnya Jakarta dihebohkan dengan serangan terorisme. Aksi bom bunuh diri dan teror baku tembang sontak menyerap perhatian publik. Entah apakah itu benar adanya terkait pengalihan isu politik atau konser teror global, Indonesia patut berduka. Bukan hanya karena jatuhnya korban jiwa, tapi lebih pada sentimen negatif yang berkembang.

Meski demikian, Indonesia tidak jatuh dan terpuruk, melainkan bangkit. Pengaruh teror bom dan teror baku tembak yang terjadi Kamis (14/1) di Sarinah, Jakarta Pusat, diperkirakan hanya sesaat dan temporer. Menilik pada kejadian yang sama yakni teror bom di Ritz Carlton pada Juli 2009, pelemahan IHSG hanya berlangsung sesaat dan tidak signifikan.

Berdasarkan data penelusuran duniaindustri.com, saat terjadi bom Ritz Carlton pada Minggu, 19 Juli 2009, keesokan harinya IHSG turun sekitar 0,55%. Hal ini menunjukkan bahwa setelah beberapa kali Indonesia menghadapi teror bom, pengaruhnya terhadap bursa saham relatif kecil dan sesaat. Pasalnya, efek teror bom terhadap perekonomian Indonesia juga relatif kecil dan tidak signifikan, kecuali untuk sektor pariwisata dan perhotelan.

Teror bom dan baku tembak lebih menyebabkan sentimen negatif dan citra buruk terhadap iklim investasi di Indonesia. Duniaindustri.com menilai di sinilah peran pemerintah untuk meng-counter efek lanjutan dari teror bom dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap keamanan serta menjaga hubungan baik dengan investor asing, meskipun ada sejumlah korban merupakan warga negara asing.

Pada Kamis (14/1), pukul 10.20 WIB terjadi teror bom (granat) dan teror baku tembak di Sarinah, Jakarta Pusat. Peristiwa bom itu diduga dilakukan teroris bom bunuh diri.



Menurut saksi mata, terjadi sedikitnya tiga ledakan bom berkekuatan sedang di lokasi kejadian. “Awalnya bom bunuh diri di depan pos lalu lintas Sarinah. Saya lihat dari ruangan saya ada dua korban meninggal termasuk polisi luka,” kata seorang saksi mata, Sanny, yang berkantor di sana.

“Ada ledakan besar di Burger King dan lalu ada seorang yang menembak-nembak. Mirip di Prancis. Korbannya banyak,” paparnya.

Ledakan pertama tersebut terjadi sekitar pukul 10.20 WIB. Ledakan kedua dan ketiga terjadi dalam waktu 15 menit kemudian.

Ledakan pertama terjadi di pos polisi di tengah jalan Sudirman, di seberang Sarinah, kemudian terjadi tembak-tembakan antara polisi dan beberapa orang yang diduga pelaku.

Ketika terjadi baku tembak yang terjadi hingga di seputaran Jalan Sabang, beberapa ledakan kembali terjadi. Setidaknya ada 3 jenazah yang tergeletak di samping pos polisi tempat ledakan.

Menurut saksi mata lainnya yang juga pengendara ojek online, dirinya melihat pelaku peledakan melemparkan tas ransel ke arah mobil Toyota Fortuner milik polisi di pos polisi dekat Starbucks, Gedung Sarinah, Jakarta Pusat. Ransel itu kemudian meledak dan merusak pos polisi tersebut.

Bursa Saham Anjlok
Seiring dengan terjadinya ledakan bom dan teror baku tembak, bursa saham Indonesia (IHSG) ditutup anjlok -77 poin (1,7%) ke level 4.459 poin pada penutupan perdagangan intraday pukul 12.00 WIB. Indeks saham-saham unggulan LQ45 anjlok lebih dalam -2,24% ke level 775 poin, sementara indeks IDX 30 melemah -2,25% ke level 405 poin.

Investor asing melakukan aksi jual sebesar Rp 1,1 triliun dan aksi beli Rp 901 miliar, sehingga nett sell sebesar Rp 200 miliar.

Hampir seluruh sektor industri tercatat turun dipimpin industri aneka sebesar -3% dan industri dasar yang anjlok -2,9%.



Dalam outlook 2016, UBS melihat penurunan lebih dalam dari ekuitas ASEAN. Secara khusus, UBS memperkirakan terjadinya penurunan lebih lanjut dari laba perusahaan-perusahaan (emiten) di ASEAN. Di samping itu, UBS juga memperingatkan bahwa pasar saham ASEAN bisa kehilangan valuasi premium.

“Perkiraan konsensus saat ini tidak konsisten dengan prospek makroekonomi UBS untuk 2016 dan 2017, dengan pengecualian Indonesia,” kata analis UBS Ian Gisbourne dan tim, seperti dikutip dari Barrons.com. Misalnya, UBS mengestimasi PDB nominal Filipina tumbuh sebesar 9% pada 2016, namun bagaimana laba korporasi di sana dapat tumbuh sebesar 16%? Thailand adalah contoh lain. UBS melihat ekonomi Thailand tumbuh hanya 5% tahun depan, sementara laba korporasi di negara itu diperkirakan tumbuh hingga 15%.

Perkiraan konsensus masih terlalu tinggi, terutama terkait proyeksi pertumbuhan laba perusahaan yang berkisar 8% sampai 16%, dengan Singapura pada tataran terendah dan Filipina pada tataran paling tinggi.

Kedua, dalam kondisi kemerosotan tahun ini, pasar saham ASEAN tidak murah. Filipina, misalnya, diperdagangkan dengan rasio harga saham per laba ke depan 17 kali, jauh di atas MSCI Asia ex-Jepang 10,9 kali. Pasar saham Malaysia diperdagangkan dengan rasio 14,9 kali laba; pasar saham Indonesia diperdagangkan dengan rasio 13,7 kali; dan Thailand 12,6 kali.(*)

Sources: click here

Tidak ada komentar:

Posting Komentar