Minggu, 25 September 2016

Inilah Generasi Industri Era 4.0

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengingatkan pelaku industri dalam negeri agar siap menghadapi era industri 4.0. Era ini menuntut pelaku industri mengubah proses manufaktur dengan mengintegrasikan sistem berbasis online dalam sebuah mata rantai produksi.

Industri 4.0 menjadikan proses produksi berjalan dengan internet sebagai penopang utama. Semua obyek dilengkapi perangkat teknologi yang dibantu sensor, mampu berkomunikasi sendiri dengan sistem teknologi informasi,” kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta.

Menperin mengatakan, penggunaan sistem online di industri mampu meningkatkan efisiensi hingga 18%. Dalam waktu lima tahun, ujarnya, sebesar 80% perusahaan akan melakukan digitalisasi dalam rantai nilai bisnis.

Hal itu dipastikan Airlangga, karena berdasarkan hasil studi di Eropa, perusahaan-perusahaan di Benua Biru melakukan investasi mencapai 140 miliar euro sampai dengan tahun 2020 untuk penggunaan aplikasi internet di industrinya. “Di sana, penggunaan internet sudah menjadi sangat penting untuk di sektor industri,” tuturnya.

Karena itu, kata Menperin, pihaknya mendorong penggunaan teknologi online atau internet oleh pelaku industri dalam negeri secara lebih intensif. Salah satu industri yang potensial berkembang melalui aplikasi online adalah industri makanan. Pasalnya, jelas Airlangga, industri makanan saat ini telah berkembang pesat secara regional karena adanya faktor warisan budaya (cultural heritage).

“Dengan adanya aplikasi online, industri makanan dan minuman menjadi lebih berkembang karena didukung kemudahan distribusi dan informasi produk,” ungkapnya.

Sistem informasi online juga membantu industri semakin efisien karena produksi dapat berlangsung secara simultan sesuai informasi kebutuhan dan stok. Beberapa sektor lainnya, seperti industri kosmetik, pupuk, semen, elektronik dan permesinan juga sudah mulai mengadopsi sistem otomasi.

"Keberhasilan mengembangkan industri tersebut akan menjadi patokan industri lainnya,” kata Airlangga.

Kemenperin juga tengah mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) agar ikut memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memperluas pasarnya.

“Tujuan pemanfaatan pasar digital adalah untuk membuat cost menjadi nol dan efisiensi value chain. Perusahaan e-commerce dalam dan luar negeri juga kita ajak kerja sama untuk mendukung langkah ini,” tutup Airlangga.

Menanggapi hal itu, duniaindustri.com menilai era industri 4.0 memang sudah di depan mata. Pergeseran sedikit demi sedikit akan terus terjadi. Secara garis besar dapat disimpulkan seperti ini; investasi membutuhkan landasan (underlying) aset produktif yang umumnya berbentuk industri. Di sisi lain, industri membutuhkan distribusi, aplikasi, dan investasi untuk terus berkembang.

Inilah mata rantai industri yang bisa mempercepat profitisasi. Kita sebut saja the next generation of industrial super cycle.

Distribusi dan aplikasi dibutuhkan terutama sebagai penghubung antara industri dan konsumen. Dengan demikian tampak jelas alur produk dari mulai hulu hingga hilir.

Dengan adanya era digitalisasi, distribusi yang dahulu dilakukan secara konvensional sedikit demi sedikit bergeser ke arah aplikasi. Penetrasi internet yang diperluas oleh media sosial seakan menyebarkan virus aplikasi dengan kecepatan tinggi.

Kata 'kecepatan' menjadi inti dari lingkaran mata rantai industri ini. Siapa yang paling cepat menggerakkan lingkaran ini dapat memenangkan persaingan di pasar.(*)

Sumber: di sini
* Butuh data industri atau riset pasar, klik di sini

Selasa, 13 September 2016

6 Kumpulan Bahan Penelitian, Tesis, dan Survei Industri Baja

Industri baja menjadi salah satu sektor yang memiliki peranan penting bagi perekonomian nasional, mengingat kebutuhan baja untuk infrastruktur, konstruksi, properti, dan sektor lainnya. Industri baja merupakan induk seluruh industri (mother industry) yang memiliki peranan penting terhadap pertumbuhan industri manufaktur di Indonesia. Bagaimana rekam jejak industri ini, siapa market leader, tren pertumbuhan pasar, serta bagaimana peta persaingannya, simak ulasan berikut ini:

1) Riset Pasar dan Tren Harga Baja (Hulu-Hilir) 2010-2016
2) Riset Komprehensif Industri Baja 2007-2017
3) Data dan Analisis Industri Baja Periode 2000-2014
4) Data Komprehensif Industri Baja di Indonesia
5) Data Permintaan Baja di Indonesia (sepuluh tahun terakhir)
6) Data Produksi dan Pangsa Pasar 4 Pemimpin Pasar Baja Canai Panas (HRC)

Berikut penjelasan detail masing-masing data/riset:

1) Riset Pasar dan Tren Harga Baja (Hulu-Hilir) 2010-2016 yang dirilis September 2016 ini menampilkan riset independen, data, analisis, kajian, dan outlook terkait tren harga baja dari hulu (bahan baku) hingga hilir. Selain itu, dilengkapi dengan tren pasar baja di Indonesia, tren konsumsi baja dan produksi baja serta ketergantungan impor, nilai pasar (market size) industri baja nasional, pangsa pasar produsen baja per segmen, tren harga baja global dan harga baja lokal, profil singkat market leader di industri baja Indonesia, serta prospek dan tantangan industi ini ke depan.

Riset Pasar dan Tren Harga Baja (Hulu-Hilir) 2010-2016 ini dimulai dari dimulai dengan menampilkan highlight makro ekonomi Indonesia, meliputi pertumbuhan PDB 2014-2019, tren inflasi, populasi penduduk, tren konsumen kelas menengah, potensi pasar lokal, serta tren PDB per kapita. (halaman 2-4)

Kemudian, pada halaman 4-6 ditampilkan highlights industri baja nasional berisi sejarah dan rekam jejak industri ini sejak 50 tahun ke belakang. Sebagai gambaran, industri baja merupakan industri strategis. Sektor ini memainkan peran utama dalam memasok bahan-bahan baku vital untuk pembangunan di berbagai bidang mulai dari penyediaan infrastruktur (gedung, jalan, jembatan, jaringan listrik & telekomunikasi), produksi barang modal (mesin pabrik dan material pendukung serta suku cadangnya), alat transportasi (kapal laut, kereta api & relnya, otomotif), manufaktur (elektronik, permesinan, turbin dan pembangkit), hingga persenjataan. Atas perannya yang sangat penting tersebut, keberadaan industri baja layak disebut mother industry (ibu dari industri).(profil ringkas halaman 3-6)

Pada halaman 7 ditampilkan chart (infografik) terkait struktur industri baja nasional mulai dari pertambangan bijih besi, pengolahan pellet, iron making, steel making, hingga produk jadi.

Selanjutnya, masuk ke pembahasan detail mengenai riset dan analisis tren harga baja 2010-2016, terutama harga baja hulu (scrap), baja midstream (hot rolled coils/HRC), dan baja hilir (pelat timah/tin plate dan pipa baja) pada halaman 8-13. Tren harga baja yang berfluktuasi secara cepat sepanjang 2016 disajikan pada halaman 8-9, kemudian periode 2015 pada halaman 10-11, dan rekapitulasi serta analisis pada halaman 12-13. Faktor-faktor seperti tren perkembangan industri baja global, dari mulai tren penurunan harga jual hingga level terendah di akhir 2015 hingga permintaan (demand) di China yang anjlok sehingga mengakibatkan oversupply serta tren harga baja ekspor China dan harga impor baja ASEAN menjadi referensi riset tren harga baja oleh duniaindustri.com.

Di halaman 14, ditampilkan tren konsumsi produk baja akhir di Indonesia yang pada 2014 mencapai 12,9 juta ton, sementara produksi baja lokal hanya 5,5 juta ton, sehingga terjadi defisit pasokan sekitar 7,4 juta ton yang masih bergantung impor. Juga dijelaskan sejumlah katalis atau faktor pendorong konsumsi produk baja di Indonesia.

Sementara menurut kompilasi data yang diperoleh duniaindustri.com, konsumsi produk baja di Indonesia pada 2015 diestimasi 15,3 juta ton, naik dari tahun sebelumnya 14,2 juta ton. (halaman 15) Secara khusus, duniaindustri.com membuat riset terkait pasar baja lokal untuk proyeksi 2016-2017 disertai dengan tren produksi periode 2007-2017 pada halaman 16.

Di halaman 17, duniaindustri.com menampilkan hasil riset terkait nilai pasar (market size) industri baja di Indonesia yang dihitung berdasarkan tingkat konsumsi nasional serta rata-rata harga baja global. Pada 2017, menurut perhitungan duniaindustri.com, total market size industri baja nasional diperkirakan mencapai US$ 7,7 miliar. Di halaman 18, ditampilkan infografik terkait utilisasi pabrik baja di Indonesia mulai dari iron makin, steel making, rolling mill, pipe making, galvanizing mill, nails, wires, bolds & nuts, coil centers, lengkap dengan kapasitas produksi nasional.

Pada halaman 19, ditampilkan infografik terkait konsumsi baja per segmen dari bahan baku, bahan setengah jadi, hingga produk hilir. Data itu dilengkapi dengan tren pangsa pasar market leader di segmen HRC, CRC, dan wire rod serta tota permintaan pasar lokal pada halaman 20. Pada halaman 21, dijelaskan potensi bahan baku iron ore, sponge iron, slab/billet serta potensi cadangan pasokan di Indonesia.

Selanjutnya, duniaindustri.com membuat riset market intelligence terkait market leader baja (HRC dan pipa baja), dari mulai profil perusahaan, kinerja keuangan, strategi pemasaran, segmentasi penjualan, fokus pasar, strategi ekspansi, tren produksi dan penjualan, cakupan distribusi, serta denah lokasi pabrik pada halaman 22-35.

Di samping itu, dijabarkan juga tantangan utama serta kendala terbesar pengembangan industri baja nasional pada halaman 36-37. Juga, ditampilkan arah dan strategi regulasi pemerintah ke depan pada halaman 38.

Riset Pasar dan Tren Harga Baja (Hulu-Hilir) 2010-2016 sebanyak 39 halaman ini berasal dari riset duniaindustri.com dengan dukungan data yang berasal dari Kementerian Perindustrian, Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA), middle east steel, BPS, WHO dan Bank Dunia, dan sejumlah perusahaan baja di Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

2) Riset Komprehensif Industri Baja 2007-2017 ini menampilkan riset independen, data, analisis, kajian, dan outlook secara komprehensif terkait seluruh informasi mengenai industri baja di Indonesia, mencakup highlights, tren pasar baja di Indonesia, tren konsumsi baja dan produksi baja serta ketergantungan impor, nilai pasar (market size) industri baja nasional, pangsa pasar produsen baja per segmen, tren harga baja global dan harga baja lokal, profil singkat market leader di industri baja Indonesia, serta prospek dan tantangan industi ini ke depan.

Sebagai gambaran, industri baja merupakan industri strategis. Sektor ini memainkan peran utama dalam memasok bahan-bahan baku vital untuk pembangunan di berbagai bidang mulai dari penyediaan infrastruktur (gedung, jalan, jembatan, jaringan listrik & telekomunikasi), produksi barang modal (mesin pabrik dan material pendukung serta suku cadangnya), alat transportasi (kapal laut, kereta api & relnya, otomotif), manufaktur (elektronik, permesinan, turbin dan pembangkit), hingga persenjataan. Atas perannya yang sangat penting tersebut, keberadaan industri baja layak disebut mother industry (ibu dari industri).(profil ringkas halaman 3-6)

Pada halaman 7 ditampilkan chart (infografik) terkait struktur industri baja nasional mulai dari pertambangan bijih besi, pengolahan pellet, iron making, steel making, hingga produk jadi. Di halaman 8, ditampilkan tren perkembangan industri baja global, dari mulai tren penurunan harga jual hingga level terendah di akhir 2015 hingga permintaan (demand) di China yang anjlok sehingga mengakibatkan oversupply. Juga ditampilkan tren harga baja ekspor China dan harga impor baja ASEAN.

Di halaman 9, ditampilkan tren konsumsi produk baja akhir di Indonesia yang pada 2014 mencapai 12,9 juta ton, sementara produksi baja lokal hanya 5,5 juta ton, sehingga terjadi defisit pasokan sekitar 7,4 juta ton yang masih bergantung impor. Juga dijelaskan sejumlah katalis atau faktor pendorong konsumsi produk baja di Indonesia.

Sementara menurut kompilasi data yang diperoleh duniaindustri.com, konsumsi produk baja di Indonesia pada 2015 diestimasi 15,3 juta ton, naik dari tahun sebelumnya 14,2 juta ton. (halaman 10) Secara khusus, duniaindustri.com membuat riset terkait pasar baja lokal untuk proyeksi 2016-2017 disertai dengan tren produksi periode 2007-2017. (halaman 11).

Di halaman 12, duniaindustri.com menampilkan hasil riset terkait nilai pasar (market size) industri baja di Indonesia yang dihitung berdasarkan tingkat konsumsi nasional serta rata-rata harga baja global. Pada 2017, menurut perhitungan duniaindustri.com, total market size industri baja nasional diperkirakan mencapai US$ 7,7 miliar. Di halaman 13, ditampilkan infografik terkait utilisasi pabrik baja di Indonesia mulai dari iron makin, steel making, rolling mill, pipe making, galvanizing mill, nails, wires, bolds & nuts, coil centers, lengkap dengan kapasitas produksi nasional.

Di halaman 14, ditampilkan tren harga baja dunia yang mulai menunjukkan rebound pada Februari-Maret 2016. Tren harga baja hulu dan baja hilir juga dipaparkan lebih detail di halaman 15. Sedangkan konsumsi baja per segmen ditampilkan lebih detail dalam tabel di halaman 16. Sementara di halaman 19-30 ditampilkan profil singkat market leader di industri baja hulu dan hilir di Indonesia, lengkap dengan kinerja keuangan dan kapasitas produksinya.

Riset Komprehensif Industri Baja 2007-2017 sebanyak 36 halaman ini berasal dari riset duniaindustri.com dengan dukungan data yang berasal dari Kementerian Perindustrian, Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA), BPS, WHO dan Bank Dunia, dan sejumlah perusahaan baja di Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan.(*)

3) Data dan Analisis Industri Baja Periode 2000-2014 ini menampilkan analisis sejarah industri baja dari 1960-an sampai 2014, ketergantungan impor masih menjadi kendala utama sehingga defisit pasokan baja lokal berlanjut hingga 2014. Juga ditampilkan profil industri baja Indonesia dan prospek ke depan. Analisis itu dilengkapi dengan data perbandingan konsumsi dan produksi baja periode 2000-2014, konsumsi baja per segmen, konsumsi baja per kapita, utilisasi industri baja nasional, tren harga baja di pasar internasional, dan pemimpin pasar baja Indonesia (HRC, CRC, dan wire rod).

Selain itu, ditampilkan data bahan baku bijih besi, pohon industri baja, dan perkembangan investasi industri hulu baja. Ditambah lagi, data produksi dan konsumsi baja Indonesia dibanding negara-negara ASEAN. Data dan analisis komprehensif yang berjumlah 25 halaman ini merupakan hasil kompilasi tim riset Duniaindustri.com, berasal dari Kementerian Perindustrian, Asosiasi Industri Baja Indonesia (IISIA), Asoasiasi Industri Baja ASEAN (SEAISI), serta sejumlah produsen baja terbesar di Indonesia.(*)

4) Data Komprehensif Industri Baja di Indonesia ini menampilkan pohon industri baja, mulai dari yang telah diproduksi lokal maupun yang masih diimpor, volume produksi, nilai PPN & PPh, jumlah tenaga kerja, konsumsi baja hulu-hilir, konsumsi baja per kapita, utilisasi kapasitas produksi, perbandingan kapasitas terpasang negara Asean, hingga dampak perdagangan bebas. Data sebanyak 26 halaman ini berasal dari Asosiasi Produsen Baja (Indonesian Iron and Steel Industry Association/IISIA), Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, BPS.(*)

5) Data Permintaan Baja di Indonesia. Data Permintaan Baja di Indonesia (sepuluh tahun terakhir) ini menggambarkan perkembangan permintaan baja, defisit pasokan baja lokal, serta tren harga bahan baku dan gas sebagai penunjang industri baja nasional. Periode yang ditampilkan sepuluh tahun terakhir.(*)

6) Data Produksi dan Pangsa Pasar 4 Pemimpin Pasar Baja Canai Panas (HRC) ini berisi produksi dan pangsa pasar empat pemain besar di industri baja canai panas, antara lain PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), PT Gunung Raja Paksi, PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST), dan PT Jayapari Steel Tbk (JPRS).(*)

Sumber: di sini
* Butuh data lebih spesifik, ingin request data/riset, klik di sini
** Butuh content provider profesional, klik di sini

Sabtu, 10 September 2016

Steel Industry Digital Database in Indonesia

Steel Price Trends and Market Research (Upstream-Downstream) 2010-2016, released September 2016 showing independent research, data, analysis, assessment and outlook related to steel pricing trends of the upstream (raw materials) to downstream. In addition, it is equipped with the trend of the steel market in Indonesia, the trend in steel consumption and steel production as well as the dependency on imports, the market value (market size) national steel industry, the market share of steel producers per segment, price trends global steel and steel prices locally, a brief profile market Indonesian leader in the steel industry, as well as the prospects and challenges of this industry also in the future.

Steel Price Trends and Market Research (Upstream-Downstream) 2010-2016 starts from the 2010-2016 begins by showing highlights macroeconomic Indonesia, covering GDP growth from 2014 to 2019, the trend of inflation, population, middle-class consumer trends, the potential of the local market, as well as trends in GDP per capita. (Page 2-4)

Then, on page 4-6 show highlights the national steel industry shows the history and track record of the industry since 50 years back. As an illustration, the steel industry is a strategic industry. This sector plays a major role in supplying the raw materials vital to development in various fields ranging from the provision of infrastructure (buildings, roads, bridges, the electric grids and telecommunications), the production of capital goods (machinery plant and supporting materials and spare parts), transportation (ships, trains and rail, automotive), manufacturing (electronics, machinery, turbines and generators), up weapons. A very important role on the steel industry where industry worth mentioning mother (mother of the industry). (Quick profile page 3-6)

On page 7 is displayed chart (infographic) related to the structure of the national steel industries ranging from mining iron ore, pellet processing, iron making, steel making, to finished products.

Next, go into detailed discussion on the research and analysis of 2010-2016 trends in steel prices, especially the price of upstream steel (scrap), midstream steel (hot rolled coils / HRC) and downstream steel (tin plate / tin plate and steel pipe) on page 8-13. The trend of steel prices fluctuate rapidly throughout 2016 are presented on pages 8-9, then the period of 2015 on pages 10-11, and a summary analysis on pages 12-13. Factors such as the development trend of the global steel industry, ranging from the downward trend in selling prices to the lowest level at the end of 2015 to request (demand) in China plummeted, resulting in oversupply and trends in steel prices of Chinese exports and the price of steel imports ASEAN become a reference research pricing trends steel by duniaindustri.com.

On page 14, show the trend of consumption of final steel products in Indonesia, which in 2014 reached 12.9 million tons, while the local steel production is only 5.5 million tons, resulting in a supply deficit of about 7.4 million tonnes of which still depends imports. Also described a number of catalysts or drivers of consumption of steel products in Indonesia.

Meanwhile, according to a compilation of data obtained duniaindustri.com, the consumption of steel products in Indonesia in 2015 estimated 15.3 million tonnes, up from 14.2 million tonnes the previous year. (Page 15) In particular, duniaindustri.com make local steel market research related to projected trends from 2016 to 2017 accompanied by the production of the period 2007 to 2017 on page 16.

On page 17, duniaindustri.com display the results of research related to the market value (market size) steel industry in Indonesia which is calculated based on the level of domestic consumption and average steel prices globally. In 2017, according to calculations duniaindustri.com, total national steel industry market size is estimated at US $ 7.7 billion. On page 18, displayed infographics related to the utilization of steel plants in Indonesia ranging from more iron, steel making, rolling mill, pipe making, galvanizing mill, nails, wires, bolds and nuts, coil centers, complete with national production capacity.

On page 19, displayed infographics related to steel consumption per segment from raw materials, semi-finished, until the downstream products. Data was fitted with the trend of market share market leader in the segment of HRC, CRC, and the wire rod and tota local market demand on page 20. On page 21, described the potential of the raw material iron ore, sponge iron, slab / billet as well as potential supply reserves in Indonesia ,

Furthermore, duniaindustri.com make research relevant market intelligence market leader steel (HRC and steel pipes), from a company profile, financial performance, marketing strategy, sales segmentation, market focus, expansion strategy, production and sales trends, distribution coverage, as well as floor plans the plant site on pages 22-35.

In addition, also described the main challenges as well as the biggest obstacle of the national steel industry development on page 36-37. Also, show the direction and strategy of the future government regulation on page 38.

Steel Price Trends and Market Research (Upstream-Downstream) 2010-2016 showed a total of 39 pages comes from research duniaindustri.com with data support from the Ministries of Industry, Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA), middle east steel, CPM, WHO and the World Bank, and a number of steel companies in Indonesia. Index of industry data is a new feature in duniaindustri.com featuring dozens of selected data according to the needs of users. All data is presented in pdf form so easily downloaded after users perform processes according to the procedure, ie click buy (purchase), click checkout, and fill out the form. Duniaindustri.com priority to the legitimacy and validity of the source of the data presented. Thank you.(*)

Source: click here
* Need indonesian industrial digital database, click here

Senin, 05 September 2016

Database Smartphone, Computer, and Home Appliances Electronics

Mobile Phones, Computer, and Electronics Home Appliance Market Research (Trends Market Size, Growth and Market Share) showing the data, studies, analysis, and research related to the mobile industry (smartphone), computers, and household electronics (home appliances) in Indonesia , From the start the trend of the market value (market size) in Indonesia, growth, market share, as well as electronic trends globally.

Mobile Phones, Computer, and Electronics Home Appliance Market Research (Trends Market Size, Growth and Market Share) was started from the beginning by showing highlights macroeconomic Indonesia, covering GDP growth from 2014 to 2019, the trend of inflation, population, middle-class consumer trends, the potential of the local market, as well as trends in GDP per capita. (Page 2-3)

On page 4, show the trend market size computer market in Indonesia and growth 2005-2015. The data is equipped with computer market share (top 5 brands) in Asia Pacific the period from 2014 to 2015 on page 5.

On page 6, described the trend of market size mobile phone market (mobile phones including smartphones) in Indonesia and the growth period of 2005-2015. The data is fitted with a market share of mobile phones (mobile phones including smartphones) (top 5 brands) in Asia Pacific the period from 2014 to 2015 on page 7.

Then, on page 8-9 show the trend of the market value (market size) for the electronic home appliances industry, 14 categories of electronic home appliances, analysis of growth trends from 2005 to 2015. The market size data is analyzed specifically on page 3 for calculating compound average growth per year (compounded annual growth rate / CAGR) from 2005 to 2015.

On page 10, described the market value (market size) phones, computers, and mobile phones as an electronic unity and growth 2005-2015.

In addition, market research showing market volume (demand) are 14 categories of electronic home appliances in 2013 and 2015 on page 11 and the portion of the product category to the total electronics market of home appliances on page 12.

On page 13, described the trend of television market share in Indonesia with eight major players who control the largest market share. On page 14, show the trend of investment and export of electronic products home appliances since 2007-2025 (forecast). Based on the research duniaindustri.com, the investment value of the national electronic industry in 2012 is expected to reach US $ 7 billion with exports of US $ 20 billion, the average cumulative investments totaled US $ 500 million per year. On page 15, reviews the trend of production and absorption of labor in the national electronic industry.

On pages 16-17, reviewed the electronic industry development strategy based on the draft 2010-2025 government period. This data is complemented with an analysis of strengths and weaknesses of the national electronic industry on page 18. These data are also equipped with consumer electronics market behavior of home appliances on page 19.

On pages 20-32, reviews trends in global electronics industry, ranging from the trade balance of electronic products in countries of ASEAN and the portion of the electronic products trading purposes ASEAN countries (page 21), the country's largest electronics exporter in ASEAN and their top 5 most electronic products exported (page 22).

Indonesia ranks sixth largest electronics exporter in ASEAN, while electronic products most exported are electronic integrated circuits and micro-assemblies.

On pages 23-25, is displayed comparison matrix competitiveness of manufacturing industry and commodities, including consumer electronics and electronic components, of all countries in ASEAN.

These data include the projected growth in the global electronics industry by region 2013-2015 period on page 26, the trend of global electronic market value and its 2005-2015 growth trend on page 27. In particular, the data showing the trend of the global electronics market size divided by region, complete with growth trends, population size, and average number of residents per household. Southeast Asia and China is the largest global electronics market with a population of 3.9 billion people, GDP of 6.7% (2015), and market value of more than US $ 70 billion.

No lag, also shown on pages 31-32 of the top 10 global market share for the electronics industry with a complete home appliance sales value.

As many as 33 pages of Mobile Phones, Computer, and Electronics Home Appliance Market Research comes from the Ministry of Industry, Investment Coordinating Board (BKPM), the Electronic Marketer Club (EMC), Indonesian Electronics Association (Gabel), IDC, a number of the largest electronics companies, and processed duniaindustri.com.

Index of industrial database is a new feature in duniaindustri.com featuring hundreds of data selection according to the needs of users. All data is presented in pdf form so easily downloaded after users perform processes according to the procedure, ie click buy (purchase), click checkout, and fill out the form. Duniaindustri.com priority to the legitimacy and validity of the source of the data presented.(*)

Sources: click here

Sumber Data dan Riset Pasar Industri Handphone, Komputer, Elektronik

Riset Pasar Ponsel, Komputer, dan Elektronik Home Appliance (Tren Market Size, Pertumbuhan, dan Pangsa Pasar) ini menampilkan data, kajian, analisis, dan riset terkait industri ponsel (smartphone), komputer, dan elektronik rumah tangga (home appliances) di Indonesia. Dari mulai tren nilai pasar (market size) di Indonesia, pertumbuhan, penguasaan pasar, serta tren elektronik secara global.

Riset Pasar Ponsel, Komputer, dan Elektronik Home Appliance (Tren Market Size, Pertumbuhan, dan Pangsa Pasar) ini dimulai dari dimulai dengan menampilkan highlight makro ekonomi Indonesia, meliputi pertumbuhan PDB 2014-2019, tren inflasi, populasi penduduk, tren konsumen kelas menengah, potensi pasar lokal, serta tren PDB per kapita. (halaman 2-3)

Pada halaman 4, ditampilkan tren market size pasar komputer di Indonesia beserta pertumbuhannya periode 2005-2015. Data tersebut dilengkapi dengan pangsa pasar komputer (top 5 brands) di Asia Pasifik periode 2014-2015 pada halaman 5.

Pada halaman 6, dipaparkan tren market size pasar ponsel (handphone termasuk smartphone) di Indonesia serta pertumbuhannya periode 2005-2015. Data tersebut dilengkapi dengan pangsa pasar ponsel (handphone termasuk smartphone) (top 5 brands) di Asia Pasifik periode 2014-2015 pada halaman 7.

Kemudian, pada halaman 8-9 ditampilkan tren nilai pasar (market size) untuk industri elektronik home appliances, 14 kategori elektronik home appliances, analisis tren pertumbuhan 2005-2015. Data market size tersebut dianalisis secara khusus pada halaman 3 untuk menghitung pertumbuhan rata-rata majemuk per tahun (compounded annual growth rate/CAGR) 2005-2015.

Pada halaman 10, dipaparkan nilai pasar (market size) ponsel, komputer, dan ponsel sebagai kesatuan elektronik periode 2005-2015 serta pertumbuhannya.

Selain itu, riset pasar ini menampilkan volume pasar (demand) 14 kategori elektronik home appliances 2013 & 2015 pada halaman 11 dan porsi kategori produk terhadap total pasar elektronik home appliances pada halaman 12.

Di halaman 13, dijabarkan tren pangsa pasar televisi di Indonesia dengan delapan pemain utama yang menguasai market share terbesar. Di halaman 14, ditampilkan tren investasi dan ekspor produk elektronik home appliances sejak 2007-2025 (forecast). Berdasarkan riset duniaindustri.com, nilai investasi industri elektronik nasional pada 2012 ditargetkan mencapai US$ 7 miliar dengan ekspor US$ 20 miliar, rata-rata investasi kumulatif mencapai US$ 500 juta per tahun. Di halaman 15, diulas tren produksi dan serapan tenaga kerja di industri elektronik nasional.

Pada halaman 16-17, diulas strategi pengembangan industri elektronik berdasarkan rancangan pemerintah periode 2010-2025. Data ini dilengkapi dengan analisis kekuatan dan kelemahan industri elektronik nasional pada halaman 18. Data ini juga dilengkapi dengan perilaku pasar konsumen elektronik home appliances pada halaman 19.

Pada halaman 20-32, diulas tren industri elektronik secara global, mulai dari neraca perdagangan produk elektronik di negara-negara ASEAN dan porsi tujuan perdagangan produk elektronik negara ASEAN (halaman 21), negara eksportir elektronik terbesar di ASEAN beserta top 5 produk elektronik yang paling banyak diekspor (halaman 22).

Indonesia menempati urutan keenam dalam eksportir produk elektronik terbesar di ASEAN, sementara produk elektronik yang paling banyak diekspor adalah electronic integrated circuits and micro-assemblies.

Pada halaman 23-25, ditampilkan matriks perbandingan daya saing sejumlah industri manufaktur dan komoditas, termasuk consumer electronics dan electronic components, dari seluruh negara di ASEAN.

Data ini dilengkapi dengan proyeksi pertumbuhan industri elektronik global per kawasan periode 2013-2015 pada halaman 26, tren nilai pasar elektronik global periode 2005-2015 beserta tren pertumbuhannya pada halaman 27. Secara khusus, data ini menampilkan tren market size elektronik global dibagi per kawasan, lengkap dengan tren pertumbuhan, jumlah populasi, serta rata-rata penduduk per rumah tangga. Asia Tenggara dan China merupakan pasar elektronik global terbesar dengan jumlah populasi 3,9 miliar orang, GDP 6,7% (2015), dan nilai pasar lebih dari US$ 70 miliar.

Tidak ketinggalan, ditampilkan juga pada halaman 31-32 top 10 global market share untuk industri elektronik home appliance lengkap dengan nilai penjualannya.

Riset Pasar Ponsel, Komputer, dan Elektronik Home Appliance (Tren Market Size, Pertumbuhan, dan Pangsa Pasar) yang berisi 33 halaman ini berasal dari Kementerian Perindustrian, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Electronic Marketer Club (EMC), Gabungan Elektronik Indonesia (Gabel), IDC, sejumlah perusahaan elektronik terbesar, dan diolah duniaindustri.com.

Indeks database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan ratusan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

Sumber: di sini
* Butuh data industri dan riset pasar lainnya, klik di sini

Kamis, 01 September 2016

Mengenal Peta Persaingan Merk Biskuit

Pasar biskuit dan wafer di Indonesia tumbuh signifikan dalam enam tahun terakhir, dari Rp 3 triliun pada 2009 menjadi sekitar Rp 6,23 triliun pada 2015, menurut data duniaindustri.com. Hal ini menunjukkan potensi pasar yang besar.

Dalam kategori biskuit dan wafer, ada enam subkategori yakni wafer, assorted biscuit, crackers, marie, stick, dan cookies. Persaingan ketat terjadi di segmen assorted biscuit. Masing-masing produsen mengusung sejumlah merek untuk menguasai pasar.

Untuk mengetahui rekam jejak dan riset tren persaingan pasar, ada baiknya Anda menyimak ulasan berikut ini:

Resume Isi Riset Pasar dan Data Industri Biskuit 2010-2016 (Peta Persaingan dan Tren Market Leader) per halaman:

Halaman dan isinya:
1. Cover depan
2. Highlights pasar consumer goods di Indonesia sebagai negara dengan ekonomi terbesar ke-16 di dunia.
3. Highlights pasar consumer goods di Indonesia dilihat dari PDB per kapita, konsumen kelas menengah, dan jumlah rumah tangga dengan daya belanja US$ 5000-US$ 15.000.
4. Outlook pertumbuhan berbagai jenis sektor industri makanan dan minuman 2013-2017 yang meliputi bakery, dairy, noodles, snack, frozen processed food, canned food, ice cream, bottle water, RTD tea, RTD coffee, energy drink, fruit juice, concentrares.
5. Highlights industri consumer goods yang menjadi salah satu sektor industri paling potensial dikembangkan sesuai peluang pasar.
6. Pertumbuhan nilai penjualan produk makanan dan minuman di Indonesia 2008-2015 serta analisisnya.
7. Indonesia consumer goods market size, nilai pasar industri consumer goods mencakup biskuit dan wafer, mi instan, snack, jeli, permen, minuman berenergi, minuman isotonik, sirup, teh siap saji, kopi siap saji, jus, susu siap saji periode 2009 dan 2015.
8. Nilai pasar industri consumer goods mencakup minuman berkarbonasi, minuman sari buah, air minum dalam kemasan, dan roti periode 2009-2015.
9. Tren pangsa pasar biskuit 2015 (market share by brand sales)
10. Tren pansa psar dilihat dari kapasitas produksi per perusahaan biskuit 2015.
11. Kapasitas produksi top 15 perusahaan biskuit di Indonesia, per grup dan per perusahaan, serta persentase terhadap total produksi biskuit nasional.
12. Kapasitas produksi top 15 perusahaan biskuit di Indonesia, per grup dan per perusahaan, serta persentase terhadap total produksi biskuit nasional.
13. Perkembangan produksi biskuit nasional dan persentase pertumbuhannya periode 2007-2015.
14. Perkembangan ekspor biskuit asal Indonesia secara volume dan nilai (US$) serta persentase pertumbuhannya periode 2007-2015.
15. Perkembangan impor biskuit secara volume dan nilai (US$) serta persentase pertumbuhannya periode 2007-2015.
16. Neraca produksi dan konsumsi biskuit di pasar Indonesia secara volume serta persentase pertumbuhannya periode 2007-2015.
17. Proyeksi dan estimasi produksi dan konsumsi biskuit di pasar Indonesia secara volume serta persentase pertumbuhannya periode 2016-2017.
18. Kinerja keuangan market leader biskuit (meliputi penjualan, laba kotor, laba usaha, laba bersih) periode 2015.
19. Kinerja keuangan market leader biskuit (meliputi penjualan, laba kotor, laba usaha, laba bersih) periode Januari-Mei 2016.
20. Proyeksi dan target kinerja keuangan market leader biskuit yakni PT Mayora(meliputi penjualan, laba kotor, laba usaha, laba bersih) periode 2016.
21. Rekam jejak kinerja keuangan market leader biskuit (meliputi penjualan, laba kotor, laba usaha, laba bersih, liabilitas, modal kerja, aset dan lainnya) periode 2013-2015.
22. Rekam jejak rasio-rasio profitabilitas market leader biskuit periode 2013-2015.
23. Market intelijen kebijakan strategis dari market leader biskuit.
24. Kendala dan tantangan yang dihadapi dari market leader biskuit.
25. Profil competitor atau pesaing utama dari market leader industri biskuit, yakni PT GarudaFood.
26. Struktur grup kompetitor dan nama-nama perusahaan yang termasuk di dalamnya.
27. Profil operasional kompetitor utama di industri biskuit.
28. Distribution network dari perusahaan kompetitor di industri biskuit.
29-34. Market intelijen terkait kinerja keuangan dan strategi pasar kompetitor lain di industri biskuit, yakni PT Siantar Top
35. Cover penutup

Sumber: di sini
* Butuh data industri atau riset pasar lainnya, klik di sini

Rabu, 24 Agustus 2016

Suplai Ayam Potong Terpercaya dan Tercepat

Inkukhu (fast delivery chicken) merupakan brand baru yang dikembangkan duniaindustri.com untuk melengkapi Divestama. Brand Inkukhu ini diperkenalkan dengan tujuan menghadirkan kecepatan dan kualitas dalam menghadirkan berbagai jenis produk ayam berkualitas sampai ke rumah Anda.

Kami menyadari, ayam sebagai salah satu sumber protein yang paling besar dikonsumsi publik merupakan pilihan yang tepat untuk berinvestasi di sektor fast moving consumer product. Berdasarkan data duniaindustri.com, konsumsi ayam mencakup 65% dari konsumsi daging masyarakat Indonesia, terbesar dibanding jenis daging lainnya. Karena itu, kami menghadikan brand Inkukhu ini untuk menopang perputaran distribusi yang cepat.

Dengan dukungan alur distribusi yang mencukupi, kami ingin menyediakan berbagai jenis ayam siap konsumsi dengan harga yang jauh kompetitif. Kami akan terus mengembangkan brand ini dengan inovasi baru untuk memberikan nilai tambah bagi penggunanya.

Ayam Potong Inkhuku
(Higienis dan halal, Segar Selalu)

Informasi Lebih Lanjut dan Pemesanan, Hubungi:

Tim Duniaindustri.com
Andryanto Suwismo
Executive Duniaindustri.com
Email: andry.dry@gmail.com
WA: 08896583870
HP: 08896583870

Suci Widyaningsih
Corporate Secretary Duniaindustri.com
Email: uchy@desainbagus.com

Kantor:
MAIN OFFICE
Jl. Mandar XII DD2/69 Bintaro Sektor 3 Jakarta Selatan
BRANCHES
Kavling Pelita Air Service Blok B nomor 24, Rangkapan Jaya Baru, Pancoran Mas, Depok, 16434.